BIJI PLASTIK AS: Solusi Teknis Produksi Gelas Blender

BIJI PLASTIK AS: Solusi Teknis Produksi Gelas Blender

Solusi Atasi Masalah Buram, Retak Rambut dan Cetakan Separuh Pada Produksi Gelas Blender, Menggunaan Biji Plastik AS Original

Apakah Anda pernah alami hasil cetakan gelas blender dari plastik AS (Acrylonitrile Styrene / SAN) gagal total? Kadang rongga cetakan hanya terisi separuh, kadang hasilnya buram, hasil cetakan separuh muncul gelembung udara, ada retakan halus setelah beberapa hari, atau terlihat garis putih (silver streak) yang membuat produk ditolak QC.

👉 Jangan biarkan masalah teknis ini terus terjadi!

PRIMA PLASTINDO hadir dengan solusi: penawaran khusus untuk bahan baku AS original berkualitas tinggi dan konsultasi teknis gratis, sehingga pabrik Anda bisa memproduksi Gelas Blender yang jernih, kuat, dan minim reject.

Hubungi Kontak Bisnis & Website resmi:

📞 Whats App / Tel: +62 812 8664 0700
🌐 Website: www.primaplastindo.co.id

Plastik menjadi bagian penting dari industri modern, terutama dalam produksi peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah Gelas Blender, yang kini hampir semuanya menggunakan material plastik, bukan kaca. Alasan utama tentu soal keamanan, biaya produksi, dan daya tahan. Kaca memang jernih dan kuat terhadap goresan, tetapi mudah pecah. Begitu blender jatuh, kaca bisa hancur dan membahayakan pengguna.

Karena itulah, produsen beralih ke plastik. Tetapi plastik yang dipakai tidak boleh sembarangan. Harus cukup jernih agar terlihat menarik, cukup kuat supaya tahan dipakai, dan cukup tahan bahan kimia karena blender sering dicuci dengan sabun, bahkan ada yang dipakai untuk menghaluskan bahan panas.

Di sinilah plastik AS (Acrylonitrile Styrene) masuk sebagai pilihan. AS dikenal dengan nama lain SAN (Styrene Acrylonitrile). Material ini menawarkan kombinasi: cukup jernih, kuat, tahan bahan kimia rumah tangga, dan harganya jauh lebih terjangkau dibanding PC (Polycarbonate) atau PMMA (Acrylic).

Namun, masalah muncul saat pabrik mencoba memproduksi Gelas Blender dari AS. Kadang hasil produksi gagal: buram, cetakan hanya terisi separuh, ada gelembung, muncul garis putih, bahkan ada retakan setelah beberapa hari. Semua ini membuat biaya produksi membengkak karena banyak produk reject.

Mengapa bisa begitu?
Jawabannya sederhana: karena karakter AS belum dipahami secara menyeluruh. Plastik ini punya sifat unik. Kalau diperlakukan dengan benar, hasilnya bagus. Tapi kalau ada langkah kecil yang salah, hasilnya bisa gagal total.

Artikel ini bertujuan bukan hanya memberi informasi singkat, tapi benar-benar jadi buku panduan teknis untuk pabrik yang memakai biji plastik AS.

Di artikel ini, kita akan bahas mulai dari dasar:

* Apa itu AS?

* Bagaimana sifatnya dan apa penyebab kegagalan produksi?

* Bagaimana cara mengatur mesin injection?

* Bagaimana merawat cetakan?

* Bagaimana pabrik luar negeri bisa sukses dengan biji plastik AS?

1. Mengenal Biji Plastik AS untuk Gelas Blender

 

a. Apa Itu biji plastik AS?

AS adalah plastik hasil campuran dua bahan: Styrene dan Acrylonitrile.

* Dari Styrene, biji plastik AS mendapatkan kejernihan, kemampuan mengalir dengan baik saat dilelehkan, serta hasil akhir yang mengkilap.

* Dari Acrylonitrile, biji plastik AS mendapat ketahanan panas, kekakuan, serta ketahanan terhadap bahan kimia.

Gabungan keduanya menghasilkan plastik yang sangat cocok untuk produk transparan seperti gelas blender, toples makanan, wadah penyimpanan, hingga peralatan rumah tangga lain.

b. Kenapa biji plastik AS Cocok untuk Gelas Blender?

Ada beberapa alasan kuat kenapa pabrikan blender lebih memilih AS ketimbang plastik lain.

Harga Ekonomis
Biji Plastik PC dan PMMA memang jernih, tapi harganya mahal. Dengan AS, biaya produksi bisa ditekan cukup signifikan.

Kejernihan Cukup Baik
Biji plastik AS bisa mencapai kejernihan 88–90%, artinya produk transparan, cukup bening untuk blender.

Kekuatan Lebih Baik dari Biji Plastik GPPS
GPPS memang jernih, tapi rapuh sekali. AS lebih kuat, tidak mudah pecah, sehingga lebih aman untuk blender.

Tahan Sabun dan Alkohol
Blender sering dicuci dengan sabun, bahkan ada yang dipakai untuk menghaluskan cairan panas atau beralkohol. GPPS tidak tahan, tapi AS cukup tahan.

Mudah Diproses di Mesin Injection
AS bisa dipakai di mesin injection standar. Tidak perlu mesin mahal atau cetakan khusus, asalkan pengaturan parameternya benar.

c. Kelemahan Biji Plastik AS yang Harus Dipahami

Namun, bukan berarti AS sempurna. Ada beberapa kelemahan yang harus diwaspadai:

* Mudah Menyerap Air: Kalau tidak dikeringkan sebelum diproses, air di dalam resin akan menguap dan membuat garis putih (silver streak).

* Rentan Stress Cracking: Kalau pendinginan terlalu cepat, produk bisa retak rambut beberapa hari setelah diproduksi.

* Tidak Sejernih PC atau PMMA: AS cukup bening, tapi kalau dibandingkan PC atau PMMA masih kalah. Jadi harus tahu segmen pasar yang dituju.

* Kalau Overheat Jadi Buram: Kalau mesin terlalu panas, AS cepat rusak dan hasilnya buram.

d. Cerita Nyata Pabrik

Banyak pabrikan yang awalnya gagal dengan biji plastik AS. Ada yang hasilnya buram, ada yang cetakan hanya terisi separuh. Tetapi setelah mereka memahami sifat biji plastik AS dan tahu cara setting mesin yang benar, hasilnya jadi bagus. Bahkan mereka bisa menekan reject sampai 80% lebih rendah dibanding sebelumnya.

Ada pabrikan di Bekasi yang awalnya pakai GPPS. Produk mereka murah, tapi gampang pecah. Konsumen komplain. Akhirnya mereka coba pakai biji plastik AS. Awalnya gagal, hasil retak rambut. Setelah konsultasi dengan supplier yang paham teknis, mereka tahu kalau pendinginan harus ditambah. Setelah diatur ulang, hasilnya bagus. Produk gelas blender mereka jadi lebih kuat dan disukai pasar.

2. Karakter Teknis Biji Plastik AS

a. AS Itu Bukan Plastik Sembarangan

Kalau pabrik baru pertama kali pakai biji plastik AS, biasanya akan kaget. “Kenapa hasilnya gampang gagal?” Padahal kalau pakai GPPS lebih gampang. Jawabannya karena AS punya sifat unik. Plastik ini bukan tipe yang bisa diperlakukan sembarangan.

AS itu amorf. Artinya, dia tidak punya titik leleh seperti plastik kristalin (contohnya PP atau PE). Kalau PP dipanaskan, ada suhu tertentu di mana dia meleleh jelas. Kalau AS beda: dia tidak pernah benar-benar “meleleh cair” seperti es batu yang berubah jadi air. Dia lebih mirip kaca: ada titik di mana dia berubah dari keras ke lentur. Itu yang disebut glass transition temperature (Tg), biasanya sekitar 100–110 °C.

Kenapa ini penting? Karena kalau biji plastik AS diproses di bawah suhu itu, resin tidak mau mengalir sempurna, hasilnya cetakan cuma terisi separuh. Tapi kalau diproses terlalu tinggi jauh di atas suhu itu, resin bisa rusak, berubah warna, bahkan jadi rapuh.

b. Kepekaan Biji Plastik AS terhadap Kelembapan

Salah satu kelemahan terbesar AS adalah sifatnya yang mudah menyerap air dari udara. Resin AS kalau dibiarkan terbuka di gudang yang lembap, dia seperti spons kecil: menyerap uap air.

Saat masuk ke mesin injection, suhu barrel mencapai 200 °C lebih. Air di dalam resin langsung menguap. Uap itu mencari jalan keluar di dalam rongga cetakan, membentuk jalur tipis, lalu muncul sebagai garis putih keabu-abuan (silver streak) di permukaan produk.

Itu sebabnya drying sangat penting. Banyak pabrikan gagal hanya karena satu hal: tidak mengeringkan resin sebelum dipakai.

c. Kekuatan dan Kekakuan

Biji plastik AS punya sifat kaku tapi tidak sekuat biji plastik PC. Kalau dibandingkan, PC jauh lebih tahan benturan, tapi harganya bisa dua kali lipat. AS posisinya di tengah: lebih kuat dari GPPS yang gampang pecah, tapi masih kalah jauh dari PC.

Untuk blender, sifat ini cukup. Karena gelas blender tidak harus dilempar atau dibanting, tapi harus kuat menahan gaya putar pisau dan tahan dicuci berulang kali.

d. Kejernihan Optik

Biji plastik AS bisa menembus cahaya sekitar 88–90%. Artinya cukup bening, tapi tidak sebening biji plastik PMMA yang bisa di atas 92%. Kalau dibandingkan dengan biji plastik PC, kejernihan AS mirip, hanya kadang warnanya sedikit lebih kebiruan.

Untuk gelas blender, kejernihan ini sudah sangat cukup. Malah beberapa pabrikan suka pakai biji plastik AS karena ada kesan “tebal dan kuat” meski sedikit lebih buram dibanding biji plastik GPPS.

e. Perbandingan dengan Biji Plastik Lain

* Kalau dibandingkan dengan biji plastik GPPS, AS jelas lebih unggul. GPPS memang lebih jernih, tapi rapuh sekali. Gelas blender dari GPPS mudah retak bahkan saat dipakai menghaluskan es batu.

* Kalau dibandingkan dengan biji plastik PC, AS kalah kuat. Tapi harga PC jauh lebih mahal. Kalau target pasarnya menengah ke atas, PC bisa dipakai. Tapi kalau targetnya pasar massal, AS jauh lebih menguntungkan.

* Kalau dibandingkan dengan biji plastik PMMA, AS lebih mudah diproses. PMMA memang jernih sekali, tapi gampang retak dan cycle time lebih lama. AS lebih fleksibel untuk produksi cepat.

f. Suhu Proses

* Operator mesin harus tahu, biji plastik AS paling nyaman diproses di suhu barrel sekitar 200–230 °C. Kalau terlalu rendah, resin tidak mengisi penuh rongga cetakan. Kalau terlalu tinggi, resin mulai terdegradasi: warnanya kusam, hasil buram, bahkan rapuh.

* Nozzle biasanya diatur 220–230 °C. Kalau lebih panas, resin bisa berubah warna. Kalau lebih dingin, aliran resin jadi tersendat.

g. Dampak Pendinginan

* Pendinginan adalah kunci. Kalau pendinginan terlalu cepat, produk menyimpan tegangan. Dalam beberapa hari, muncul retak rambut yang bikin produk reject. Kalau pendinginan terlalu lama, cycle time boros.

* Idealnya, pendinginan biji plastik AS di cetakan gelas blender sekitar 8–12 detik. Tergantung tebal dinding produk tersebut.

📌 Intinya: biji plastik AS punya sifat unik → gampang gagal kalau salah perlakuan, tapi bisa sangat bagus kalau diproses benar.

3. Penyebab Kegagalan Penggunaan Biji Plastik AS untuk Produksi Gelas Blender

a. Cetakan Hanya Terisi Separuh (Short Shot)

Masalah ini paling sering terjadi di pabrik. Resin AS tidak mengisi penuh rongga cetakan. Hasilnya gelas blender setengah jadi.

Penyebabnya adalah:

* Tekanan injection terlalu rendah.

* Suhu barrel terlalu rendah.

* Gate atau pintu resin terlalu kecil.

* Resin terlalu kental karena MFI rendah.

Solusi: tingkatkan tekanan injection, naikkan suhu barrel sedikit, atau perbesar gate.

b. Garis Putih (Silver Streak)

Produk terlihat ada garis putih keabu-abuan, seperti serabut. Ini tanda resin masih lembap.

* Penyebab: resin tidak dikeringkan.

* Solusi: drying 80–90 °C selama 3–4 jam sebelum dipakai.

c. Gelembung Udara (Bubble) dan Rongga Kosong (Void)

* Kalau di dalam dinding gelas blender ada gelembung, itu tandanya holding pressure kurang. Resin tidak cukup ditekan saat pendinginan, sehingga udara terjebak.

* Solusi: tingkatkan holding pressure, atur pendinginan lebih lama.

d. Retak Rambut (Stress Cracking)

* Produk terlihat bagus di awal, tapi setelah beberapa hari muncul retakan halus. Ini karena produk menyimpan stress internal akibat pendinginan terlalu cepat.

* Solusi: perpanjang cooling time dan perbaiki jalur pendingin di cetakan.

e. Garis Sambungan (Weld Line)

* Produk ada garis tipis di tempat aliran resin bertemu. Penyebabnya desain gate kurang baik atau tekanan injection tidak cukup.

* Solusi: ubah desain gate, atau tingkatkan tekanan injection.

f. Produk Buram (Haze)

* Produk yang seharusnya bening jadi berkabut. Penyebabnya resin terlalu panas atau terlalu lama tinggal di barrel.

* Solusi: turunkan suhu barrel, jangan biarkan resin diam terlalu lama.

Cacat Lain yang Sering Terjadi

Selain enam masalah utama, ada juga cacat lain yang kadang muncul:

* Sink mark: lekukan kecil di permukaan produk karena pendinginan tidak rata.

* Flow mark: aliran resin terlihat di permukaan.

* Burn mark: bercak hitam karena udara terjebak.

* Warping: produk melengkung karena pendinginan tidak seimbang.

Semua ini bisa dikendalikan dengan pengaturan mesin dan desain cetakan yang benar.

4. Solusi Teknis di Mesin Injection

a. Pentingnya Drying (Pengeringan Resin)

Banyak pabrik menganggap drying sepele. Ada yang bilang, “Ah, resin baru datang dari supplier, masih segar, nggak usah dikeringkan.” Padahal kenyataannya resin AS sangat cepat menyerap uap air dari udara. Bahkan dalam waktu beberapa jam saja di gudang lembap, kadar air bisa naik cukup tinggi.

Kalau resin lembap langsung masuk mesin, efeknya pasti terlihat: silver streak (garis putih keabu-abuan), bubble, bahkan produk bisa terlihat seperti ada kabut.

Solusi paling sederhana: drying sebelum produksi.

* Suhu drying: 80–90 °C

* Waktu drying: 3–4 jam

* Alat: hopper dryer (bisa juga oven sederhana, asal suhunya stabil)

Operator mesin harus disiplin. Kalau drying tidak dilakukan, jangan harap hasil injection bagus. Banyak pabrik yang akhirnya sadar: drying bukan pilihan, tapi kewajiban.

b. Pengaturan Suhu Mesin (Barrel)

Mesin injection punya beberapa zona pemanas. Kalau diibaratkan, resin itu seperti air yang mengalir di pipa panjang. Di bagian awal pipa, resin baru masuk. Di bagian tengah, resin mulai dipanaskan dan mencair. Di bagian akhir, resin siap ditembakkan ke dalam rongga cetakan.

Kalau suhu tidak stabil, resin bisa macet di tengah, atau malah rusak di akhir.

Setting umum untuk penggunaan biji plastij AS adalah:

* Zona awal (tempat resin masuk): 190–200 °C

* Zona tengah: 210–220 °C

* Zona akhir: 220–230 °C

* Nozzle: 220–230 °C

Dengan pengaturan ini, resin bisa mengalir lancar, cukup cair, tapi tidak sampai rusak.

c. Tekanan Injection

Biji plastik AS butuh tekanan injection yang pas. Kalau tekanan terlalu rendah, resin berhenti sebelum mengisi penuh rongga cetakan → hasilnya cetakan cuma separuh. Kalau tekanan terlalu tinggi, produk bisa flash (berlebih di tepi).

Langkah umum:

* Awal pengisian: tekanan tinggi untuk dorong resin sampai ujung.

* Setelah penuh: masuk ke tahap holding dengan tekanan 50–70% dari awal.

Holding ini penting supaya resin tidak mengerut (shrinkage) saat pendinginan. Kalau holding kurang, bisa muncul void (rongga kosong) atau permukaan cekung.

d. Pendinginan (Cooling Time)

* Pendinginan ibaratnya waktu istirahat resin sebelum keluar dari cetakan. Kalau pendinginan terlalu cepat, produk masih menyimpan tegangan di dalamnya → hasilnya retak rambut setelah beberapa hari. Kalau pendinginan terlalu lama, cycle time boros, biaya produksi naik.

* Untuk gelas blender, biasanya 8–12 detik pendinginan sudah cukup. Tapi tergantung tebal dinding produk.

* Pabrikan Jepang biasanya disiplin: mereka lebih rela cycle time sedikit lebih lama, asalkan produk benar-benar stabil. Sementara pabrikan yang terburu-buru kadang memangkas cooling time → akhirnya reject meningkat.

e. Kecepatan Injection

* Kecepatan injeksi juga penting. Kalau resin ditembak terlalu cepat, udara bisa terjebak, produk muncul burn mark. Kalau ditembak terlalu lambat, resin mulai membeku sebelum sampai ujung.

* Solusi: atur kecepatan sedang, lalu sesuaikan berdasarkan hasil percobaan.

f Contoh Kasus di Pabrikan

* Ada pabrikan di Tangerang yang selalu dapat hasil buram. Setelah dicek, ternyata mereka setting nozzle di 250 °C. Resin terlalu panas, jadinya kusam. Setelah diturunkan ke 225 °C, hasil langsung jernih.

* Ada pabrikan lain di Bekasi yang sering gagal cetakan separuh. Ternyata gate mereka kecil sekali, plus tekanan injection rendah. Setelah diperbesar gate dan dinaikkan tekanan, hasilnya 100% terisi.

📌 Intinya: mesin injection harus diatur dengan disiplin. Drying, suhu, tekanan, pendinginan, semua berpengaruh besar.

5. Solusi Teknis di Cetakan (Mould)

Kalau mesin sudah benar tapi hasil masih gagal, kemungkinan besar masalah ada di cetakan. Banyak pabrik fokus ke mesin, lupa kalau cetakan justru faktor utama.

a. Desain Gate

* Gate adalah pintu masuk resin ke rongga cetakan. Kalau pintunya kecil, resin bisa berhenti di tengah → hasilnya produk cuma separuh. Kalau terlalu besar, produk bisa muncul bekas tebal di bagian gate.

* Untuk produk transparan seperti gelas blender, gate harus dirancang supaya aliran resin masuk merata, tidak meninggalkan garis sambungan yang terlihat. Biasanya dipakai fan gate atau edge gate.

b. Runner

* Runner adalah jalur resin sebelum masuk ke gate. Kalau runner kecil atau terlalu panjang, resin kehilangan tekanan sebelum sampai ke rongga cetakan. Akibatnya hasil tidak penuh atau muncul weld line.

* Solusi: pastikan runner cukup besar dan jalurnya tidak berbelit-belit.

c. Venting (Pembuangan Udara)

* Kalau udara tidak bisa keluar dari rongga cetakan, resin yang masuk akan menekan udara itu. Akhirnya udara terjebak, jadi burn mark (bekas hitam), atau produk tidak sempurna.

* Makanya penting buat vent kecil di ujung aliran resin, biar udara keluar.

d. Polishing Cetakan

* Untuk produk transparan, permukaan cetakan harus dipoles sampai halus seperti cermin. Kalau ada goresan atau kasar sedikit saja, hasil produk akan terlihat buram.

* Di Jepang, polishing cetakan sangat diperhatikan. Bahkan mereka punya standar khusus untuk produk transparan. Karena itu produk mereka bisa sangat jernih.

e. Perawatan Cetakan

* Cetakan harus sering dibersihkan. Kalau ada sisa resin atau kotoran menempel, hasil injection akan jelek.

* Pabrikan Korea biasanya punya jadwal: setiap 5.000 shot, cetakan dibersihkan. Di Indonesia banyak pabrik yang baru bersihin kalau hasil sudah jelek → itu telat.

f. Contoh Kasus

* Ada pabrik di Cikarang yang produknya selalu muncul garis di tengah. Setelah diteliti, ternyata aliran resin bertemu di bagian itu, tapi tidak menyatu sempurna karena venting tidak ada. Setelah ditambahkan vent, garis hilang.

* Ada juga pabrikan di Surabaya yang hasilnya selalu buram. Setelah dicek, cetakan mereka tidak pernah dipoles ulang selama bertahun-tahun. Setelah dipoles ulang, hasil langsung jernih.

📌 Kesimpulan: cetakan yang baik sama pentingnya dengan mesin. Gate, runner, venting, polishing, perawatan → semua berperan.

6. Studi Kasus Nyata di Pabrikan

a. Kasus Pertama: Produk Buram Padahal Mesin Baru

* Ada pabrikan di Bekasi yang baru membeli mesin injection modern. Mereka yakin hasil produksi blender akan bagus. Tapi kenyataannya, hasilnya buram. QC menolak hampir 40% produksi. Operator bingung, teknisi juga frustrasi.

* Setelah diperiksa, ternyata masalah sederhana: resin tidak dikeringkan sebelum diproses. Begitu dilakukan drying 3 jam di suhu 85 °C, produk langsung bening.

* Pelajaran: mesin secanggih apapun tidak ada gunanya kalau resin tidak diperlakukan dengan benar.

b. Kasus Kedua: Gelas Blender Retak Setelah 3 Hari

* Sebuah pabrik di Tangerang meluncurkan produk baru. Hari pertama, hasilnya mulus. QC lolos. Tapi setelah disimpan di gudang 3 hari, banyak produk mulai muncul retakan halus. Buyer komplain, produksi ditunda.

* Setelah investigasi, ternyata pendinginan terlalu cepat. Operator ingin mempercepat cycle time jadi hanya 6 detik. Akibatnya produk masih menyimpan stress internal.

* Solusi: cooling time ditambah jadi 10 detik. Setelah itu, produk stabil.

* Pelajaran: jangan terlalu mengejar kecepatan produksi kalau mengorbankan kualitas.

c. Kasus Ketiga: Cetakan Cuma Terisi Separuh

* Pabrik di Surabaya sering alami cetakan tidak penuh. Produk setengah jadi. Setelah dicek, gate cetakan mereka sangat kecil. Resin AS yang viskositasnya cukup tinggi tidak mampu mengalir sampai ujung.

* Solusi: gate diperbesar, tekanan injection dinaikkan sedikit. Hasilnya penuh 100%.

* Pelajaran: desain cetakan sama pentingnya dengan mesin.

d. Kasus Keempat: Muncul Garis Putih

* Sebuah pabrik di Karawang dapat komplain dari buyer karena blendernya ada garis putih seperti retakan. Padahal produk baru 1 minggu diproduksi. Setelah dicek, itu bukan retakan, tapi silver streak. Penyebabnya resin lembap.

* Setelah mereka beli hopper dryer, masalah hilang.

e. Kasus Kelima: Produk Buram Karena Cetakan Kotor

* Ada pabrik di Semarang yang produknya selalu buram di bagian tertentu. Setelah cetakan dibongkar, ternyata ada sisa resin terbakar menempel di permukaan. Setelah dipoles ulang, hasil kembali jernih.

* Pelajaran: perawatan cetakan jangan ditunda.

7. Optimasi Produksi Massal

Produksi massal berbeda dengan trial. Kalau trial gagal, paling cuma rugi beberapa ratus biji. Tapi kalau massal gagal, bisa rugi puluhan juta karena ribuan produk reject.

a. Cycle Time

* Cycle time adalah waktu total 1 siklus produksi. Mulai dari resin ditembak ke cetakan sampai produk dikeluarkan. Untuk gelas blender, biasanya cycle time 12–15 detik.

* Kalau pabrik terlalu memaksakan hanya 7 detik, produk belum stabil, banyak stress internal. Kalau terlalu lama 20 detik, biaya naik. Jadi harus seimbang.

b. Konsistensi Mesin

Mesin lama sering tidak stabil: suhu naik-turun, tekanan tidak konsisten. Operator harus rajin cek. Mesin modern punya kontrol digital lebih presisi. Tapi kuncinya tetap disiplin operator.

c. Penyimpanan Resin

Jangan asal taruh resin di gudang terbuka. Resin AS mudah menyerap air. Simpan di karung tertutup rapat, di ruang kering.

d. Monitoring QC

QC harus rutin cek transparansi, retak rambut, bubble. Jangan tunggu ribuan biji diproduksi baru diperiksa.

8. Perbandingan Ekonomi.

Bayangkan pabrik pakai 3 jenis biji plastik untuk gelas blender.

* Kalau pakai biji plastik PC, produk kuat sekali. Tapi harga resin PC bisa 2 kali lipat AS. Margin jadi tipis, pasar hanya bisa menengah atas.

* Kalau pakai biji plastik GPPS, produk murah dan jernih. Tapi rapuh sekali. Begitu dipakai menghaluskan es batu, langsung pecah. Buyer pasti komplain.

* Kalau pakai biji plastik PMMA, hasil super jernih. Tapi rapuh dan mahal. Produksi massal jadi tidak masuk akal.

* Kalau pakai biji plastik AS, hasil cukup jernih, cukup kuat, tahan sabun, harga terjangkau. Pas untuk pasar massal menengah.

Kesimpulan ekonomi: biji plastik AS adalah pilihan paling logis.

9. Benchmark Internasional

a. Pabrikan Tiongkok

Pabrik di Tiongkok terkenal disiplin. Drying resin selalu dilakukan. Hasilnya reject hanya 2%.

b. Pabrikan Korea

Ada pabrik yang mencampur biji plastik AS dengan ABS untuk menambah impact resistance. Hasilnya lebih kuat, tapi tetap cukup jernih.

c. Pabrikan Jepang

Di Jepang, standar polishing cetakan sangat tinggi. Cetakan dipoles sampai benar-benar seperti cermin. Hasilnya produk AS terlihat sangat jernih, hampir seperti PMMA.

10. Pertanyaan Teknis yang Sering Ditanyakan Pabrik

* Kenapa hasil cetakan cuma separuh? Hal ini dikarenakan tekanan kurang, gate kecil, atau resin kental.

* Kenapa muncul garis putih? Hal ini diarenakan resin lembap. Solusinya drying.

* Kenapa produk buram? Hal ini dikarenakan resin terlalu panas atau terlalu lama di barrel.

* Kenapa muncul gelembung? Hal ini dikaarenakan holding pressure kurang.

* Kenapa ada retak rambut setelah beberapa hari? Hal ini dikarenakan pendinginan terlalu cepat.

* Apakah biji plastik AS aman untuk food grade? Jawabannya: Ya, asal beli dari supplier terpercaya.

* Apakah mesin injection lama bisa dipakai? Jawabannya: bisa, asal setting yang benar.

* Apakah perlu masterbatch? Jawabannya: kalau mau warna natural transparan, tidak perlu. Tetapi Kalau mau warna berwarna atau anti-UV, bisa pakai masterbatch.

* Apa beda biji plastik AS dengan bij plastik GPPS? Jawabannya: GPPS lebih jernih tapi rapuh. AS lebih kuat dan lebih tahan kimia.

11. Kesimpulan

Produksi gelas blender dari biji plastik AS terkadang bisa gagal, karena kurang disiplin teknis. Masalah seperti cetakan hanya separuh, produk buram, muncul garis putih, retak rambut bisa dihindari kalau pabrik disiplin dalam drying, setting suhu mesin, pendinginan, dan perawatan cetakan.

👉 Jangan ulangi kesalahan yang sama.

Gunakan biji plastik AS original berkualitas dari PRIMA PLASTINDO.

Hubungi segera kontak bisnis dan website resmi:

📞 WhatsApp / Tel: +62 812 8664 0700
🌐 Website: www.primaplastindo.co.id

Bersama PRIMA PLASTINDO, pabrik Anda bisa:

✅ Mengurangi reject sampai puluhan persen
✅ Menghemat biaya produksi
✅ Meningkatkan kualitas produk blender
✅ Mendapat konsultasi teknis gratis

 

biji plastik asrene, biji plastik as, biji plastik asli, biji plastik chandra asri, biji plastik jenis as, asal biji plastik, harga biji plastik chandra asri, biji plastik abs, biji plastik buat apa, biji plastik pet, biji plastik SAN, supplier biji plastik AS, jual biji plastik AS, harga biji plastik AS, pabrik biji plastik AS, biji plastik AS untuk blender, biji plastik AS untuk injection, kegunaan biji plastik AS



Whatsapp kami
1
Butuh Info?
Halo!
Butuh informasi harga biji plastik apa anda hari ini?