Saudi Terus Pepet Rusia, AS Semakin Panas?

Saudi Terus Pepet Rusia, AS Semakin Panas?

Ditengah situasi huru hara akibat keputusan Opec+ untuk memangkas produksi minyak, Arab Saudi malah terlihat semakin akrab dengan Rusia dan kawan-kawan.

Apa yang sebenarnya sedang direncanakan Saudi dengan terus berpaling dari AS?

Bagaimana kondisi AS melihat tingkah Saudi?


PrimaPlastindo.co.id, JAKARTAβ€”Setelah memenuhi undangan Arab Saudi untuk membahas kerjasama bilateral dan mengkonsolidasikan kemitraan strategis, Presiden Afrika Selatan dalam jumpa persnya menyatakan kalau Arab Saudi berminat bergabung bersama BRICS.

Apa itu BRICS? Apa saja pengaruhnya kalau Saudi jadi bergabung dengan BRICS?

BRICS adalah sebuah organisasi untuk menampung dan mewadahi negara-negara ambang industri, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Meskipun keputusan Saudi menjadi bagian dari BRICS baru akan dibahas saat pertemuan puncak yang berlangsung di Johannesburg, Afrika Selatan tahun depan, tapi dengan bergabungnya Saudi, pastinya ini akan memberi perubahan signifikan untuk negara-negara anggota.

Belum bisa dipastikan apa sebenarnya tujuan Saudi ingin bergabung dengan BRICS.

Namun dikutip dari newsweek.com, mantan Penasihat Senior Menteri Energi Saudi, Mohammed Al Sabban, yang berkomentar “Kami adalah negara berdaulat dan kami tidak menerima perintah dari siapa pun,”atas amukan AS tentang pemotongan produksi minyak OPEC+.

Apakah tujuan Saudi ini untuk berunjuk rasa terhadap AS?

Bersama dengan negara-negara OPEC+ lainnya, para pejabat Arab Saudi berpendapat bahwa keputusan untuk memangkas produksi minyak adalah apolitis dan diambil sejalan dengan proyeksi permintaan energi global.

Keputusan OPEC+ tetap jelas dan tegas meskipun Washington mendesak berulang-ulang. Hal ini jadi menimbulkan kecurigaan.

Apakah AS yang dipimpin Presiden Joe Biden saat ini memiliki sebuah tujuan tersembunyi?

AS tidak menyerah, mereka terus mendesak agar Saudi benar-benar tidak memotong produksinya dengan alasan harga minyak dunia telah mengalami lonjakan tahun ini akibat perang Rusia-Ukraina. Bagaimana kondisi AS? Apa langkah yang mau mereka ambil sekarang?

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih mengatakan Biden kecewa dengan keputusan ‘bodoh’ OPEC+ dalam memangkas kuota produksi, disaat ekonomi global sedang terpuruk akibat serangan Putin ke Ukraina.

Presiden AS mengancam Arab Saudi dengan “konsekuensi” yang tidak disebutkan dan menuduh sekutu lama itu berpihak pada Rusia dalam krisis Ukraina. AS benar-benar ngamuk!

Bahkan seorang anggota parlemen AS telah menyerukan untuk memutuskan kerja sama dengan Arab Saudi, termasuk menghentikan penjualan senjata dan juga menarik dukungan militer mereka.



Whatsapp kami
1
Butuh Info?
Halo!
Butuh informasi harga biji plastik apa anda hari ini?