Ekonomi AS & Cina Sama-Sama Gelap! RI Perlu Waspada?

Ekonomi AS & Cina Sama-Sama Gelap! RI Perlu Waspada?

Dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China sedang tidak baik-baik saja.

Bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut?

Mana yang dampaknya lebih terasa bagi Indonesia? Amerika atau China?


PrimaPlastindo.co.id, JAKARTAβ€”Ekonomi Amerika Serikat dan China sama-sama sedang alami β€˜badai’. Hal ini menjadi beban besar di tengah pemulihan pasca-pandemi.

Hasil survei Reuters menunjukkan PDB Amerika Serikat diperkirakan tumbuh 2,1% setelah mengalami kontraksi dalam dua kuartal beruntun.

Artinya, secara teknis Amerika Serikat akan lepas dari resesi.

Namun, tidak serta merta pasar akan menyambut baik hal tersebut, sebab ada risiko Negeri Paman Sam akan mengalami double dip recession.

Resesi di awal tahun ini memang ringan, bahkan mungkin belum terasa sebab pasar tenaga kerja AS masih sangat kuat, tetapi yang parah akan datang.

Double dip recession pernah dialami Amerika Serikat (AS) pada 1980an. Resesi pertama terjadi pada kuartal I sampai III-1980, kemudian yang kedua pada kuartal III-1981 dan berlangsung hingga kuartal IV-1982.

Sementara itu, survei terbaru dari Reuters yang melibatkan 40 ekonom menunjukkan perekonomian China diperkirakan tumbuh 3,2% di 2022, jauh di bawah target pemerintah 5,5%.

Perekonomian China diperkirakan akan mencatat kinerja terburuk dalam hampir 5 dekade terakhir. Penyebabnya, datang dari dalam dan luar negeri.

Apakah gelapnya ekonomi AS dan China ini berdampak terhadap ekonomi Indonesia?

Menurut Ekonom Senior, Chatib Basri, Indonesia perlu lebih khawatir dengan dampak ekonomi China dibandingkan dengan Amerika.

Mengapa? Maklum saja, mengingat China adalah pasar ekspor terbesar Indonesia.

Pada periode Januari – September nilainya mencapai 45,238 miliar dolar AS, atau nyaris 22% dari total ekspor Indonesia.

Jadi, jika China mengalami penurunan ekonomi, otomatis juga akan mengurangi pemintaan ekspor dari Indonesia.

Bisa dibayangkan, ekspor yang dibanggakan Indonesia seperti, nikel dan besi baja akan turun.

Selain itu, China bukan hanya pasar ekspor terbesar Indonesia, tetapi juga sebaliknya.

Impor dari negara pimpinan Presiden Xi Jinping ini tercatat nyaris 34% dari total impor Indonesia, paling besar dibandingkan negara lainnya.

Menurut Chatib juga, China tidak bisa tumbuh double digit ke depannya. Jika ini terjadi, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepannya tentunya menghadapi tantangan berat.

Sebab jika dilihat sejak tahun 2000, pergerakan PDB Indonesia cenderung mirip China.

Indonesia perlu melakukan diversifikasi perdagangan dan juga mengandalkan investasi ke depannya.

Apakah Indonesia bisa lolos dari dampak gelapnya ekonomi China? Apa yang bisa membuat perekonomian Indonesia tetap kokoh?



Whatsapp kami
1
Butuh Info?
Halo!
Butuh informasi harga biji plastik apa anda hari ini?